Tuesday, October 17, 2006

Demi Tuhan, Aku Tidak Mau

blank blank blank
bang bang bang
ambilah pistol, isilah dengan peluru secukupnya. masukkan moncongnya kedalam mulutmu, tarik pelatuknya dan.....
otakmu akan segera keluar, darah segar membasahi tubuh dan kamu akan segera melihat tubuhmu tergeletak menjadi tontonan orang banyak. kalau kebetulan ada wartawan lewat, esok paginya gambar-gambarmu akan menghiasi media massa. yang paling asik lagi, kamu telah memberikan lapangan pekerjaan bagi polisi yang biasanya hanya duduk-duduk di kantor saja. mungkin itulah kebaikan yang kamu berikan pada orang untuk terakhir kalinya. jadi tersenyumlah ketika peluru melesak dalam kepalamu, supaya nanti kalau ada orang melihatmu, mereka akan selalu berpikiran bahwa kamu bahagia, senang atau puas. dengan begitu orang akan mengingatmu dengan kebahagiaan.
jika kamu belum puas dengan itu, kamu bisa menuliskan beberapa baris pesan. usahakan kamu menulis tentang semua yang indah-indah. berikan salam manis dalam tulisanmu itu. ketika orang menemukan tulisanmu itu, mereka akan menangis tapi tidak sedih. mereka menangis karena itu adalah itulah kebahagian yang sangat berlimpah. untuk lebih mengesankan lagi, ikutkan beberapa foto-foto terbaikmu. foto-foto dengan gambar kebahagianmu, keceriaanmu. tampilkan semua potensi keindahan yang kamu miliki dalam pesanmu.
jangan pernah berpikiran kalau kamu sedang tersiksa dan sudah tidak mempunyai jalan lain, pikirkanlah kalau kamu telah menemukan sebuah jalan yang akan membuka jalan-jalan lain. pikirkanlah kalau jalan-jalan itu akan menjadi pilihan dalam langkahmu.
sekali lagi, lakukanlah itu dengan penuh keyakinan dan kepercayaan. jangan pernah ragu, nikmatilah prosesnya. mulai dari kamu memasukkan peluru ke dalam pistol, kemudian nikmatilah moncong pistol yang mulai masuk kedalam mulutmu, menyentuh bibirmu, menyentuh lidahmu. tariklah pelatuknya dengan penuh perasaan, nikmatilah nyaring suara per berderit dan suara klik yang merdu. dan rasakan sedikit demi sedikit peluru masuk dalam kepalamu, sebentar kemudian kamu akan lemas, terkulai dengan senyum kepuasan.
sekali lagi, nikmatilah dan hayatilah dengan segenap perasaanmu.
baik, aku kira cukup untuk saat ini. sampai jumpa lagi. kita tetap akan bertemu.
blank blank blank
bang bang bang

Thursday, September 21, 2006

penantang

selamat malam
enakkah tidurmu?
selamat malam
nikmatkah tidurmu?
selamat malam
nyamankah tidurmu?
selamat malam
jangan berpikir macam-macam!
selamat malam
berpikirlah satu hal saja!
selamat malam
aku mencintaimu!
selamat malam
ingatlah itu!
selamat malam
mimpi indah bersamamu.

btijox 01:09-06

Tuesday, August 15, 2006

sebuah

sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah sebuah SEBUAH

Monday, July 10, 2006

RADIO 60 DETIK

yu sranti: "kang parno... kang parno... ada berita bagus kang..."

yu sranti berlari tergopoh-gopoh mencari suaminya.

kang sronto: "ada apa to mbokne?"

kang parno keluar dari kamar sambil membenarkan posisi sarungnya.

yu sranti: "anu kang, gerakan jogja bangkit (GJB) sekarang sudah punya sekretariat baru kang." "hloh, hla alamat yang di gedong kiwo bagaimana?" "alamat yang di gedong kiwo itukan alamat sementara kang, sekarang sudah alamat tetap, atas kebaikan seorang kawan yang mau merelakan rumahnya untuk dijadikan sekretariat, ini kang alamatnya yang baru:"

Sekretariat:


GERAKAN JOGJA BANGKIT (GJB)

Jl. Kadipaten Kulon, KT I/305, Yogyakarta 55132.

Telp. (0274) 419581, 7405177.

Kontak Person:

081578851726 (Agung bondo’), 08122743726 (Hasto),

08164269356 (Whani Darmawan), 08174101172 (Thole), 0274-744161 (Pran).



sound efek: ( lantunan suara gamelan yang rancak ) klank klenk klonk

anncr: ( suara yang tegas dan jelas )
ya! segeralah gabungkan diri anda dan rapatkan barisan bersama kami. untuk informasi lebih lanjut, segeralah datang kesekretariat kami.

sound efek: ( out )

anncr: informasi tentang "gerakan jogja bangkit" dapat juga di akses di:
http://gerakanjogjabangkit.blogspot.com
dan untuk kritik dan saran dapat dialamatkan di: email:gerakanjogjabangkit@yahoo.com

Thursday, June 29, 2006

Gerakan Jogja Bangkit (GJB)

Profil

Digembleng… Hancur Lebur… Bangkit Kembali !!!

Digembleng… Hancur Lebur… Bangkit Kembali !!!

Gempa tektonik yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada jam 05.55 hari Sabtu Wage 27 Mei 2006, telah membawa kehancuran masyarakat dalam berbagai sisi. Sesuatu yang telah dicapai dalam puluhan tahun sirna dalam tempo kurang dari satu menit. Bencana selain memorak-porandakan bagunan fisik dan kehancuran jiwa masyarakat juga menghacurkan tata ekonomi-sosial-budaya masyarakat. Tatanan itu harus dikukuhkan kembali sebagai bentuk kebangkitan spirit hidup masyarakat.

Berawal dari pemikiran tentang pentingya bantuan mental bagi korban gempa, di tengah bantuan logistik dan sembako yang terlihat mengalir banyak, “Gerakan Jogja Bangkit” lahir untuk segera memulihkan mental dan semangat hidup korban gempa. Pada 1 Juni 2006 GJB mulai mendorong kebangkitan mental masyakat melalui siaran di radio Sonora, dan dilanjutkan dengan aksi pemasangan spanduk-spanduk yang membangkitkan semangat rakyat korban gempa bumi di daerah Jogja dan Bantul. Pemasangan spanduk-spanduk tersebut dimulai pada tanggal 3 Juni 2006 bersama Bp. Idham Samawi, Bupati Bantul, di halaman rumah dinas Bupati Bantul. Pemasangan spanduk tersebut juga sebagai deklarasi Gerakan Jogja Bangkit. 120 buah spanduk terpasang di wilayah Yogyakarta dan kemudian menginspirasi banyak elemen masyarakat untuk segera bangkit.

VISI

Membangun Gerakan kebangkitan sosial ekonomi dan budaya masyarakat korban gempa bumi.

MISI

  1. Membangkitkan mental dan semangat hidup masyarakat korban gempa.
  2. Membangkitkan kembali potensi sosial-ekonomi masyarakat korban gempa bumi di wilayah Yogyakarta
  3. Menyelamatkan aset kultural masyarakat korban gempa bumi.
  4. Membangun dan meneguhkan solidaritas masyarakat.
  5. Mempengaruhi kebijakan pemerintah yang terkait dengan penanganan korban gempa bumi.
  6. Melakukan pendampingan hukum bagi korban bencana yang berkaitan dengan kebijakan penanganan korban bencana bumi.

PROGRAM

Pokja A

Program Pendidikan

Sanggar Baca atau perpustakaan hanyalah merupakan sarana untuk mengetahui perubahan yang terjadi di dalam masyarakat, kecuali berfungsi sebagaimana perpustakaan itu sendiri. Bisa menjadi pusat konsolidasi untuk masyarakat sekitar. Diharapkan nantinya dapat terjadi trauma-healing yang lebih alamiah yang lahir dari masyarakat sendiri sementara kira hanya memfasilitasi saja. Ini tentu mensyaratkan “relawan lokal” atau kontak-kontak di dusun atau tempat sanggar berada.

Perencanaan ini juga dapat digunakan sebagai pendukung Kebangkitan Ekonomi masyarakat dengan menampung ide kreatif untuk penciptaan model kerajinan baru hingga penggiatkan program budaya yang bisa melahirkan produk tertentu misalnya menggambar/ kerajinan tangan dengan material khusus gempa.

Program ini ditempuh dengan :

  1. membuat sanggar-sanggar membaca dengan kegiatan:

    1. membaca buku bersama

    2. mendongeng/ bercerita

    3. menggambar bersama

    4. membuat kriya dari kayu bekas runtuhan

    5. latihan kethoprak

    6. latihan musik/ karawitan/ atau kesenian apapun yang menggunakan prinsip ‘bermula dari yang ada’

    7. dan aneka kegiatan lain yang dimungkinkan di lapangan

  2. trauma healing

  3. permainan-permainan anak

Pokja B

Kebangkitan Potensi Ekonomi (produktif)

Kebangkitan ekonomi ini berupa percepatan pemulihan ekonomi masyarakat korban gempa. Recovery sendi-sendi ekonomi ini dirasa lebih mendasar dari rekonstruksi fisik yang juga penting. Dengan pemahaman bahwa bantuan sembako hanyalah sementara saja, Bangkit, berusaha dan bekerja itu lebih utama, kita akan memfasilitasi dan mendampingi para pelaku ekonomi real di masyarakat daerah gempa untuk segera bangkit dan melanjutkan aktivitas ekonomi mereka sebelum gempa. Dengan prioritas pada pelaku ekonomi rakyat (usaha mikro-kecil), kemandirian masyarakat dapat lebih diharapkan. Upaya mengembalikan alat-alat produksi yang rusak dan membangkitkan mental berproduksi/bekerja masyarakat ini dapat kita diskusikan lagi berdasar pembagian sektoral dan jaringan yang dapat kita rengkuh karena beragamnya bentuk usaha masyarakat mulai dari pengrajin hingga bakul jamu, hingga tukang sol sepatu.

Program ini ditempuh dengan melakukan:

  1. pendataan dan mensupport mental pelaku usaha kecil dan mikro untuk segera bangkit dari keterpurukan gempa
  2. mengupayakan adanya bantuan alat produksi bagi mereka
  3. mengadakan life skill education bagi warga korban gempa.
  4. mendorong dan memfasilitasi ekspo-ekspo kebangkitan ekonomi di daerah gempa.

Pokja C

Kebangkitan Seni-Budaya

Kebangkitan Sosial Budaya merupakan modal mendasar bagi tatanan masyarakat di daerah bencana. Mulai dari anak-anak yang sehat, lincah dan ceria akan mendorong orangtua bersemangat dan kreatif untuk berusaha kembali hingga banyaknya seniman tradisional di Bantul yang perlu dibangkitkan lagi mental kreatifnya, merupakan ruang yang perlu diperhatikan. Langkah awal yang akan dilakukan adalah dengan melakukan pendataan dan penyelamatan aset kulutural yang ada di daerah gempa. Misalnya, banyaknya perangkat gamelan dan wayang yang rusak di daerah gempa yang perlu segera diselamatkan dalam tenda tertentu. Dalam tenda gamelan itu masyarakat kita dorong untuk kembali menabuhnya. Tentu ini akan menjadi psico-healing yang baik dan benar-benar menjadi simbol kebangkitan yang nyata.

Progam ini dijalankan dengan:

  1. menyelenggarakan even-event budaya di daerah gempa sebgai simbol kebangkitan masyarakat.

  2. membuat leaflet-leaflet kebangkitan rakyat

  3. mengadakan pameran-pameran seni

Pokja D

Bantuan Hukum

Pasca bencana, tentu muncul banyak masalah hukum. Hal ini perlu diatasi segera. Persoalan hukum yang muncul tidak melulu problem hukum yang besar, mungkin hanya sekedar comlain soal tagihan PLN, pembagian living-cost, atau yang lain. Lebih penting dari itu, pokja hukum berperan mempengaruhi kebijakan pemerintah yang terkait dengan penanganan korban gempa bumi dan melakukan pendampingan hukum bagi korban bencana yang berkaitan dengan kebijakan penanganan korban bencana bumi.

STRUKTUR

Koodinator Umum : Agung Budyawan

Kesekretariatan : Adi Ruspriyanto, Al Madu, Agus Krise, Aryo

Naldo, Suri.

Jaringan : Krisnadi Thole Setiawan, Kari Tri Aji

Pokja A : Whani Dharmawan, Budi Suryantoro, Agus

Obyek, Wiwit “Cathak”, Diah, Anton

Subiyanto

Pokja B : Widihasto W. Putro, Pambudi Sulistyono,

Ridanto B.R.

Pokja C : Maftuhan, Robith Marfu, Rahman, Kuss

Indarto, Landung Simatupang, Ledhek

Sukardi, Bondan Nusantara,

Pokja D : Totok Ispurwanto, Lutfi Rahman,

Satgas lapangan : Ulil, Botie, Arman, Imam Manyul, Tobu

Martono, Aditya Rahman, Dhuto P, Hendro

Pleret, Fuad Amin, Arief Realino, Nopek, Wiwit

Cathak, Angki, Bonhet, Anom, Yosep, Jupri,

Fery.

ALAMAT

Gerakan Jogja Bangkit untuk sementara beralamat di

Jl. Swadaya, Gedong Kiwo MJ I 655.

Telp. (0274) 376797, cp: 081578851726, 08174101172, 08122743726, 08164269356, 08121068940, email:gerakanjogjabangkit@yahoo.com

www.gerakanjogjabangkit.blogspot.com

Bantuan dapat dialamatkan ke sekretariat

Sumbangan pendanaan ditransfer ke rekening

no. 456 061 4654 a.n. aditya rahman. BCA kcp Urip Sumoharjo.

Friday, June 09, 2006

PASCA GEMPA

Laporan Lapangan


27 Mei 2006 menjadi hari yang sangatlah sulit dilupakan bagi warga jogjakarta dan jateng, dalam hitungan hitungan detik saja semua harta benda sudah luluh lantak. Pagi yang biasanya tenang berubah menjadi kepanikan, suara jeritan, tangisan, alunan doa berbaur menjadi satu dan membuat miris bagi siapa saja yang mendengarnya. Di antara puing-puing reruntuhan itu berjajar tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa, ambulance, truk, pick up hilir mudik meraungkan sirene dan menyalakan lampu, melaju cepat membawa korban-korban luka ke rumah sakit terdekat. Hiruk pikuk kepiluan membuat kota jogjakarta menjadi sebuah kota yang sangat mengerikan. Di pinggir-pinggir jalan, banyak tubuh-tubuh berjajar bermandikan darah, entah masih hidup atau sudah tidak bernyawa. Rumah sakit banyak yang menolak pasien karena sudah tidak mampu lagi menampung pasien. Sampai malam hari kesibukan evakuasi korban masih berlangsung.

Dalam kegelapan karena hampir 90 % listrik di jogja padam, orang-orang masih mencari anggota keluarga mereka yang menjadi korban. Mulai pukul 21:00 jogja diguyur hujan deras, gempa susulan yang masih sering terjadi kira-kira dua jam sekali semakin membuat panic masyarakat. Alun-alun kraton jogjakarta telah dipenuhi pengungsi, kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi bahwa kraton akan selalu dilimpahi keselamatan, membuat kraton menjadi lautan manusia.

Hari pertama adalah hari yang sangat menyedihkan, kota jogja tanpa penerangan, tanpa tenda pengungsi, tanpa makanan dan diguyur hujan lebat.

Hari kedua mulai banyak yang sakit-sakitan (flu, muntaber, ispa, dan infeksi luka yang belum terobati) dan kelaparan. Masyarakat yang setiap harinya bertani dan menjadi buruh turun ke jalan-jalan meminta belas kasihan kepada para pengguna jalan.

Sampai hari ke lima masih banyak ditemukan korban yang terkubur dalam reruntuhan*. Baunya sudah sangat menyengat. Pasokan bantuan yang sangat lambat dan birokratis dari pemerintah semakin memperparah kondisi. Belum lagi statement dari pejabat-pejabat yang menyebutkan nominal bantuan telah membuat masyarakat semakin gelisah**. Pendistribusian bantuan yang tidak merata juga telah membuat masyarakat saling mencurigai satu dengan yang lainnya. Petugas-petugas yang terkait dengan distribusi bantuan banyak yang menyunat bantuan itu. Contoh kasus misalnya, di daerah srandakan bantul per KK mendapatkan Jadup 5 kg beras. Dalam pelaksanaannya mereka hanya mendapatkan antara 4 sampai 4,5 kg beras. Kemudian di daerah imogiri, pembagian logistic untuk posko yang besar dan yang kecil disamaratakan. Masih di daerah imogiri, pasokan air bersih untuk MCK di monopoli oleh pengurusnya. Untuk mandi harus bayar Rp 3000,00 dan untuk berak Rp 1000,00***.

Kondisi social di masyarakat semakin tegang ketika mulai maraknya penjarahan-penjarahan bantuan dan pencurian-pencurian dengan kedok relawan. Potensi konflik dalam masyarakat semakin tinggi, beberapa relawan sempat menjadi amukan massa****.

Awal juni 06, mulai terbersit pikiran-pikiran untuk mengendalikan situasi yang semakin tidak terkendali itu. Gagasan-gagasan untuk menciptakan masyarakat yang segera bangkit dari keterpurukan dan masyarakat mandiri akhirnya membuahkan sebuah gerakan yang diberi nama “Gerakan Bantul Bangkit”. Gerakan ini berkoordinasi dengan Bapak Idham Samawi (Bupati Bantul). Peran therapy pasca gempa diambil dengan memasang spanduk-spanduk yang berisi dorongan bagi masyarakat bantul untuk tidak putus asa walaupun sudah tidak punya harta benda dan ditinggal saudara-saudara mereka.

Dari pantauan di lapangan, pasca gempa telah membuat pasien rumah sakit jiwa naik hingga 50% dan tingkat bunuh diri juga naik secara tajam. Hampir di setiap daerah yang parah terkena dampak gempa dapat di temukan orang bunuh diri.

Gerakan Bantul Bangkit di deklarasikan di rumah dinas bupati bantul dan mendapat sambutan yang positif dari masyarakat. Bantuan dari relawan yang semakin hari semakin menipis mulai menyadarkan masyarakat bahwa untuk membangun kembali bantul harus dimulai dengan berdiri di kaki sendiri.

Saat ini perekonomian dan kondisi social masyarakat bantul mulai pulih, tingkat ketergantungan masyarakat pada bantuan luar mulai dapat dikikis. Masyarakat yang sehari-harinya bertani dan menjadi buruh mulai beraktifitas seperti biasa. Disela-sela membersihkan puing-puing dan mendirikan rumah semi permanent, mereka mulai kembali ke sawah dan mulai bekerja. Pasar-pasar tradisional mulai mengeliat walaupun masih menggunakan tenda-tenda darurat. Sekolah-sekolah yang hancur juga mulai aktif dengan menggunakan tenda-tenda. Para siswa mulai bersemangat masuk sekolah meskipun masih ada yang luka akibat tertimpa bangunan. Mereka tetap bersekolah walaupun tanpa seragam dan tanpa bangunan permanen.

Bantul mulai bangkit dengan kemandirian, semangat masyarakat untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan adalah awal untuk membangun kembali bantul. Keceriaan kembali tergurat di wajah anak-anak yang selama beberapa waktu terakhir terlihat murung, inilah yang akan membuka mata bagi semua saja bahwa kehancuran bantul bukanlah kematian bagi mereka. Kehancuran adalah semangat untuk membangun yang lebih baik. Berdiri di kaki sendiri akan lebih baik dari pada mengandalkan orang lain, kembali kepada semangat bergotong-royong yang merupakan warisan nenek moyang untuk membangun kembali bantul. “SAIYEG, SAEKAPRAYA”*****


Btijoxjun0706


* kurang lebih 6000 jiwa menjadi korban gempa 27 mei 2006 dan hingga saat ini masih ada korban yang belum ditemukan.


** statement dari wapres tentang ganti rugi dan santunan bagi korban bencana telah membuat masyarakat saling mencurigai satu-sama lain. Selain itu juga membuat beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab memperebutkan tender/proyek itu.


*** Korupsi, kolusi dan nepotisme yang sangat mengakar di negeri ini tidak lagi mengenal ruang dan waktu.


**** sudah sering terjadi clash di masyarakat masalah distribusi bantuan dan kecurigaan sesama anggota masyarakat.


***** saeyeg, saekapraya adalah semboyan peninggalan nenek moyang dalam bahasa jawa yang berarti senasib sepenanggungan.


Miris = memilukan, mengerikan


Friday, May 26, 2006

ALUN

Dipagi buta seorang nenek duduk termangu di depan rumahnya yang terlihat mulai miring ke kiri. Dengan wajah yang terlihat gusar, sesekali ia melihat ke belakang. Pintu yang menganga membuat seisi rumah terlihat. Temaram lampu minyak yang menyinari ruangan bergoyang-goyang ditiup angin pagi yang menusuk sampai ke sumsum. Dalam ruangan itu terlihat seorang bocah kecil yang tertidur pulas. Badannya yang kurus tampak tenang tanpa membawa beban apapun dalam mimpinya. Pohon-pohon bambu meliuk ditiup angin dan melantunkan suara yang pilu. Udara pagi yang basah menambah suasana kian memerindingkan bulu kuduk. Gemericik air di sungai kecil sebelah rumah mencoba menenangkan hati dan pikiran. Kokok ayam pertama terdengar. Ayam pelung yang suaranya mengalun panjang dan merdu memberikan isyarat bagi umat manusia untuk bersiap-siap bangun. Beberapa saat kemudian suara Adzan pertama terdengar membelah kesunyian subuh. Sang nenek tergeragap dan sadar akan kegusarannya, ia segara bangun dan masuk ke dalam rumah menengok si bocah yang masih dalam ketenangannya. Langkah kaki sang nenek yang terseret tidak mengusik ketenangan bocah itu. Kaki yang dahulu mampu berjalan bepuluh-puluh kilometer, kini untuk mengangkat tubuhnya pun terasa berat dan bergetar. Pada masa revolusi kemerdekaan, kaki itu sanggup mendaki gunung-gunung untuk menghindari sergapan tentara belanda. Dia bersama-sama dengan teman-temannya yang lain berjuang mengangkat senjata. Sebuah karabin rampasan dari tentara belanda ia tenteng kemana-mana dan itulah suaminya saat itu. Kepedihannya melihat penduduk desa disiksa, dirampas hasil bumi dan ternaknya, diinjak-injak dan diperkosa oleh penjajah yang membuatnya memberanikan diri bergabung dengan pemuda gerilya. Pertama ia akan ditempatkan di bagian logistic tetapi tidak mau, ia lebih suka berada di front terdepan dengan mengangkat senjata. Selama sebulan ia dilatih menggunakan senjata hingga akhirnya diijinkan untuk ikut mengamankan daerah yang berhasil direbut republik. Walaupun seorang perempuan tetapi ia termasuk seorang gerilyawan yang tangkas sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah memimpin pasukan sebanyak 15 orang semuanya laki-laki. Ia pandai dalam mengatur taktik penyergapan musuh dan ia juga pandai dalam merumuskan strategi untuk menguasai suatu daerah yang belum terbebaskan. Gerakan gerilya yang ia ikuti memang berbeda dengan pasukan resmi bentukan republic yang diajari cara baris-berbaris dan mengenal militer secara formal. Mereka berjuang hanya bermodalkan seadanya dan insting untuk membinasakan musuh di depan mereka. Pengalaman dalam peperangan yang membuat mereka terus bertahan hidup keluar-masuk hutan, turun naik gunung dan bersatu dengan penduduk di setiap perkampungan yang mereka singgahi. Untuk taktik dan strategi yang mereka gunakan banyak diperoleh dari cerita-cerita orang tua mereka tentang kejayaan kerajaan-kerajaan besar yang pernah berdiri di nusantara. Tidak sedikit pula mereka belajar dari cerita-cerita babad yang dipentaskan oleh kelompok-kelompok kesenian kethoprak atau wayang orang. Dalam perjalanan waktu, mereka menjadi gerakan gerilya yang sangat ditakuti dan disegani musuh. Tidak terhitung berapa daerah yang telah berhasil mereka bebaskan dari cengkeraman musuh, tidak terhitung pula berapa banyak musuh yang mereka binasakan, berapa banyak senjata ringan maupun berat yang berpindah tangan dan tidak sedikit pula tank-tank musuh yang berhasil mereka jadikan rongsokan. Mereka terus bergerak tidak kenal lelah dan kenal menyerah sampai akhirnya musuh benar-benar meninggalkan republic. Dan saat ini mereka pun juga telah ditinggalkan dan mungkin juga dilupakan.